Rabu, 12 Oktober 2011 | By: manusiahidup

Emas Ditangan, Sejahtera Tak Kunjung Datang


          Sejak penandatanganan Kontrak Karya untuk waktu 30 tahun pada tahun 1967, PT Freeport Indonesia menjadi kontraktor eksklusif  tambang Ertsberg di atas wilayah 10 km persegi. Ditinjau dari satu sisi, Indonesia memang beruntung mendapatkan investor asing untuk mengelola tambang Ertsberg di Irian Jaya itu. Mengingat Ertsberg terdiri dari 40-50 persen oksida besi dalam bentuk mineral magnetit; 3,5% tembaga dalam bentuk mineral kalkopirit dan bornit (keduanya sulfida besi dan tembaga). Dengan demikian, Ertsberg merupakan deposit tembaga terkaya yang pernah ditemukan di atas permukaan tanah . Analisis laboratorium memastikan perkiraan ekspedisi bahwa terdapat kandungan tembaga sebesar “13 acres”, suatu kode yang dibuat oleh Wilson untuk menyatakan 13 juta ton bijih. Jauh lebih ke dalam tanah, diperkirakan terdapat 14 juta ton bijih untuk setiap kedalaman 100 meter. Jumlah keseluruhan diperkirakan mencapai 50 juta ton bijih.
            Pada awalnya wilayah tambang ini hanya untuk memproduksi tembaga, dan pada tahun 1973 peluncuran proyek Ertsberg mulai diluncurkan dan lokasi tersebut dinamakan Tembagapura. Hal ini dikarenakan pada awalnya pada proyek ini, memang hanya akan menambang tembaganya saja. Akan tetapi setelah waktu kian bergulir, proyek Ertsberg ini juga ternyata menghasilkan emas. Emas yang pada mulanya “dianggap” hanyalah by product , akhirnya menjadi produk utama proyek ini, karena emas lebih menghasilkan keuntungan daripada sekedar tembaga. Akan tetapi karena pada saat itu PT Freeport Indonesia belum menjalankan prinsip good corporate governance (mungkin hingga saat ini) , hasil temuan yang menguntungkan ini hanya diketahui oleh pihak-pihak dalam PT Freeport Indonesia saja. Nampaknya meskipun PT Freeport Indonesia belum menjalankan prinsip good corporate governance akan tetapi Freeport sudah menjalankan satu prinsip lainnya, yaitu greed corporate governance.
            Melihat keadaan tersebut, sepertinya telah terjadi ketidakadilan antara pihak Freeport dengan Pemerintah Indonesia. Terlebih, jika kita melihat kedalam pembagian hasil dari proyek tambang ini. Indonesia hanya mendapatkan royalti sebesar 1% saja dari keuntungan pertambangan ini, sedangkan PT Freeport Indonesia mendapatkan 99%. Hal ini didasari dengan Kontrak karya yang dibuat pada masa kolonial Belanda dulu, yang mematok bahwasannya Indonesia hanya akan mendapatkan royalti sebesar 1% dari keuntungan proyek ini. Pada waktu itu, Indonesia memang sudah sangat terdesak dengan keadaan. Alih-alih ingin mendapatkan investor asing, maka segala syarat yang sebenarnya merugikan Indonesiapun tetap diterima dan disetujui Pemerintah pada saat itu.
            Seharusnya saat ini, Indonesia (baca:Pemerintah) sudah harus bertindak melihat ketidakadilan ini. Seharusnya Indonesia sudah tidak lagi mengunci mati keuntungan yang didapat itu, tetapi sudah harus mengukuti harga emas. Mengingat harga emas dunia saat ini sedang mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Dengan kata lain, sudah harus ada negosiasi ulang antara Pemerintah Indonesia dengan PT Freeport Indonesia.
            Lebih jauh, selain seluruh masyarakat Indonesia yang merasa dirugikan oleh kesewenang-wenangan PT Freeport Indonesia ini, pekerja yang berhadapan langsung dengan PTFI pun turut menjadi korbannya. Menurut keterangan yang diberikan oleh Serikat Pekerja Seluruh Indonesia PT Freeport Indonesia, pekerja  PTFI hanya diberi upah sekitar 2,1 dolar/jam. Ini sangat memprihatinkan, mengingat keuntungan PTFI sehari dapat mencapai 200-230 miliar/hari. Jika dibandingkan dengan  pekerja Freeport yang ada di Amerika Utara, maka pekerja disana mendapatkan upah sekitar 30 dolar/jam. Melihat situasi ini, nampaknya pekerja PTFI adalah pekerja yang paling rendah pendapatannya dibanding dengan pekerja Freeport yang ada di Cile, Peru, dan Amerika Utara. Maka dari itu, wajar apabila saat ini pekerja PTFI melakukan mogok kerja hingga tanggal 15 Oktober 2011.
            Sebenarnya mogok kerja yang dilakukan para pekerja ini sangat beralasan dan memang sudah seharusnya pihak Freeport sendiri bisa mengabulkan tuntutan para pekerjanya itu. Tapi apa yang terjadi. Ketika para pekerja itu ingin mengaspirasikan keinginan mereka, nampaknya moncong senjatalah yang harus mereka hadapi di lapangan, sehingga tak heran ada korban yang berjatuhan dari peristiwa “negosiasi” tersebut.
            Bukanlah penyetaraan upah dengan para pekerja Freeeport diluar negeri yang diharapkan oleh para pekerja ini. Akan tetapi mereka menginginkan adanya penyesuaian antara, produktivitas mereka dalam bekerja, potensi mereka, dan kontribusi yang besar bagi kelangsungan PTFI dengan upah yang mereka terima.
            Sepertinya lagi-lagi PTFI sudah melanggar ketentuan UU No 13 Th. 2003 Tentang Ketenagakerjaan, yang mengharuskan adanya kesejahteraan dalam pembangunan ketenagakerjaan di Indonesia. Jika dikaji lebih dalam, dengan adanya PTFI ini dengan segala kebijakan yang dibuatnya, nampaknya perusahaan ini juga telah melanggar Konstitusi kita, yang mengharuskan segala kekayaan alam yang ada di Bumi Indonesia diatur dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.
            Melihat itu semua, seharusnya Pemerintah sudah harus bisa mengambil sikap terhadap PTFI ini. Dengan segala bentuk ketidakadilan ini secara tidak langsung sudah mencoreng kedaulatan Indonesia. Pemerintah harus turut serta melakukan negosiasi ulang kepada PTFI guna mendukung aspirasi dari para pekerjanya. Karena para pekerja PTFI itu adalah warga negara Indonesia, dan mutlak menjadi kewajiban Pemerintah untuk dapat melindungi warganya sendiri sehingga para pekerja PTFI tidak lagi menjadi korban ketika mereka berupaya mengaspirasikan keinginan mereka dalam peningkatan kesejahteraan.
            Sesungguhnya bisnis yang tidak menjadikan suatu amal dan menjadikan suatu ilmu, serta memutus silaturrahmi akan tetapi menghasilkan uang, sesungguhnya itu adalah suatu bencana. Jadi, harus ada negosiasi ulang antara Pemerintah, Pekerja, dan PT Freeport Indonesia, agar segala bentuk kedzaliman ini dapat dihentikan. Dengan kata lain, masyarakat Indonesialah yang pantas mendapatkan keuntungan dari proyek tambang emas ini, bukan pengusaha, bukan pula istana (baca: pemerintah).
Kamis, 25 Agustus 2011 | By: manusiahidup

Luasnya Ilmu Allah

Demi pena dan apa yang dituliskan (Al-Qalam : 1)

Di dunia yang sedang kita huni ini, terdapat banyak sekali ilmu-ilmu Allah yang bertebaran dimana-mana, dan kita sebagai makhluk Allah sudah sepatutnya untuk senantiasa mencari ilmu tersebut. Karena bagi orang yang berilmu, Allah akan meninggikan orang tersebut beberapa derajat. Artinya terdapat suatu perbedaan diantara orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Kita lihat saja dilingkungan sekitar kita, ketika seseorang yang dinilai menguasai suatu disiplin ilmu maka seseorang itu akan mendapat “perlakuan” yang berbeda dari masyarakat sekitar. Sudah pastinya perlakuan yang positif. Jikalau di mata manusia saja seseorang yang berilmu itu mendapat perlakuan yang istimewa, lalu akan sangat istimewanya orang tersebut di mata Allah.

Ketika kita berbicara tentang ilmu. Sesungguhnya seluruh ilmu itu bersumber dari Allah semata. Dalam surat Luqman ayat 27 dikatakan: 

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut [menjadi tinta], ditambahkan kepadanya tujuh laut [lagi] sesudah [kering]nya, niscaya tidak akan habis-habisnya [dituliskan] kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
 
Dalam surat luqman  diatas, Allah mengibaratkan seluruh pohon-pohon yang ada dibumi itu menjadi pena, dan laut menjadi tinta yang akan dipakai untuk menulis ilmu Allah. Tapi selanjutnya Allah menerangkan lagi, maa nafidat kalimatullah (maka tidak akan ada habisnya untuk menulis kalimat Allah, kalimat Allah disini berarti ilmu Allah), walaupun ditambahkan lagi kepadanya tujuh laut, tetapi tetap tidak akan cukup untuk menulis ilmu Allah.



Dari penjelasan dari ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwasannya ilmu yang Allah miliki itu sangat luas (banyak). Ketika Allah sudah menyiapkan ilmu-ilmuNya, maka selanjutnya adalah menjadi kewajban kita untuk mencari, memahami ilmu-ilmu Allah tersebut.

   Dalam suatu hadis dikatakan, man aroda dunya fahua bi ilm, wa man aroda akhirah fahua bi ilm (barang siapa yang menghendaki dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki akhirat maka dengan ilmu). Dari hadis ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa semua itu ada ilmunya ketika kita ingin sukses di dunia maka jalannya adalah dengan ilmu, begitu juga ketika kita ingin sukses di akhirat maka jalannya dengan ilmu pula. Dan sekali lagi, bahwa benar adanya ketika seseorang yang mempunyai ilmu maka dia akan sukses dunia dan akhirat.


Akan tetapi perlu diketahui bersama bahwa, ketika kita sudah memahami suatu ilmu, maka kita juga harus mengamalkan ilmu tersebut. Seperti dalam mahfudzot (pepatah arab) dikatakan al ilmu bilal amalin, kassajari bilal tsamarin (ilmu tanpa diamalkan, bagaikan pohon yang tidak berbuah) artinya masih belum sempurna suatu ilmu ketika kita belum mengamalkannya.
ilmu bila amalin = assajarah bila tsamarin

Telah dikatakan dimuka bahwasannya ilmu Allah itu sangat luas tak terhingga, jadi hikmah yang dapat kita ambil dari  ayat tersebut , kita harus selalu mencari ilmu dan tidak berhenti pada suatu titik saja. Artinya ketika kita sudah merasa memahami dan menguasai suatu ilmu, maka carilah ilmu- ilmu lain. Jangan merasa karena kita sudah menguasai satu ilmu maka kita enggan untuk mencari ilmu lainnya. Mengutip dari surat Al-Insyirah ayat 7  faidza faraghta (dan apabila kamu telah menyelesaikan suatu pekerjaan), fangsob (maka kerjakanlah hal yang lainnya). Jadi, kaitannya dengan ilmu, ketika kita sudah menguasai suatu ilmu, maka carilah ilmu lainnya, karena sesungguhnya ilmu Allah itu tidak ada habisnya.




Masjid Babussalam yang 25 August..
Rabu, 24 Agustus 2011 | By: manusiahidup

Wanita Perkasa





Dibalik kesuksesan seorang pria, terdapat seorang wanita yang menemaninya.


 Dalam sebuah keluarga, posisi seorang Ibu menjadi sangat sentral dan dapat mempengaruhi anggota keluarga lainnya. Seorang suami yang bersusah payah mencari nafkah akan merasa hilang kejenuhannya ketika sampai dirumah ia sudah disambut hangat oleh istri tercintanya. Anak-anak yang kelelahan seusai bermain dan sekolah akan merasa nyaman ketika duduk dan dibelai oleh ibunya. Entah aura apa yang dikeluarkan dari seorang makhluk yang satu ini. Pantas saja Allah dan Rasulnya sangat menganjurkan umat manusia untuk selalu menghormati dan menghargai jerih payah dari segala usaha yang dilakukan seorang Ibu.




 Mushola yang dingin..

 
Selasa, 23 Agustus 2011 | By: manusiahidup

Malaikat Kecil Kami


Akhir tahun 2005, kami sekeluarga dikejutkan oleh kedatangannya. Hmm,,agak tiba-tiba, tapi ya inilah titipan Allah, Allah mampu mendatangkan sesuatu tanpa kita sadari sebelumnya. Hanya saja titipan ini kurang lebih lewat jalur khusus, mungkin kalau bahasa Biro Admisi kampus lebih sering dipanggil dengan sebutan jalur kemitraan. Sebuah jalur yang memang mempunyai jalannya tersendiri untuk dapat masuk ke sebuah institusi, dan biasanya lebih mahal. Begitupun dengan titipan ini, harga yang harus dibayar sangat mahal, bukannya hanya dari sisi ekonomi, terlebih dari sisi sosialpun terkena dampaknya.

Tapi inilah kehidupan, semuanya serba mungkin. "Titipan" yang mulanya dianggap sebagai suatu hal yang tabu, karena memang "pengirimannya" yang agak beda,  justru kini menjadi sebuah obat penawar di keluarga kami. Disaat keluarga kami yang memang sedang dilanda musibah, hanya dia (malaikat kecil) yang bisa membuat kami semua tertawa bahagia dan merasakan kehangatan dari sebuah keluarga. Dia menjadi pencair suasana disaat anggota keluarga kami yang lainnya saling bersitegang. Ya, itulah berkah dari seorang anak yang belum berdosa. Orang dewasa pun menjadi tersihir dibuatnya.

Jadi, pada dasarnya seorang anak itu memang membawa suatu perubahan di dalam kehidupan orang di sekitarnya. Engga peduli "bagaimana" dia datang, seorang anak tidak bisa disalahkan atas kesalahan orangtuanya. Anak adalah anak, hiduplah terus malaikat kecil, bermanfaatlah untuk orang banyak, dan bentuk suatu perubahan, buktikan pada dunia kamu memang spesial..




Om yang ganteng, di Agustus yang 24.



Senin, 22 Agustus 2011 | By: manusiahidup

Berubah!!!!!!!!!!!!

Salam,,,,

Udah lama ga nulis lagi di catatan kecil ini, dari waktu terakhir nulis sampai sekarang mau mulai nulis lagi banyak banget hal-hal yang udah terjadi dan sayang banget ga ditulis..ffuuiihh..tapi ga apa, kita coba ulas sedikit aja ya gan..hehhe..

kata orang perubahan itu perlu dan pasti akan terjadi, memang sudah jadi sunatullah mungkin ya?. kayaknya pedih banget kalau perubahan yang kita alami malah perubahan ke arah yang lebih negatif. Ya, aku mengalaminya. Ternyata, engga cuma iklim aja yang semaik buruk, tapi juga sisi perekonomian, sosial, semuanya ikut berubah, seakan-akan pada latah ngeliat keadaan bumi yang semakin hancur. Bukan ingin menyesali, tapi ingin mengambil hikmah dari ini semua, apakah kami tidak pernah bersyukur atas nikmatNya? atau memang keimanan kita sedang diuji?ehehhe...itu tergantung kita ngeliatnya gimana. Tapi yang pasti kita ga boleh terpuruk hanya karena hal-hal kecil yang kaya gini.

Wahai masalah, aku punya Allah yang maha besar, wahai masalah aku punya Allah yang maha besar, sekali lagi wahai masalah aku punya Allah yang maha besar..
Kalau kita nganggap perubahan yang seperti ini suatu masalah, yaa percaya aja, tiap masalah pasti ada jalan keluarnya..heheh..Jadi anggap aja semua itu masalah, karena setiap masalah pasti ada solusi, yang penting kita kembali lagi semuanya ke yang maha memiliki..harus percaya!!!engga percaya uang kembali..loh??...


Bandung yang mulai panas..
Selasa, 21 Desember 2010 | By: manusiahidup

SMS ibunda

Ya ga papa atuh,
de, doain ayah, sekarang sering sakit...kemaren sampe engga bisa jalan..tapi alhamdulillah udah sembuh..usahanya masih belum lancar, kamu harus sabar...

Ya Allah..berilah kekukatan untuk ayahku....
Ayah,,doa'ku menyertaimu.....
Kamis, 02 Desember 2010 | By: manusiahidup

Kisah Klasik TKI

Terulang lagi dan sepertinya tidak ada habisnya, kisah pilu yang datang dari saudara kita yang sedang mengais rejeki di negeri orang. Kisah penganiayaan teranyar terjadi pada Sumiati, tenaga kerja Indonesia yang baru saja bekerja sekitar empat bulan di Arab Saudi, kini harus dirawat karena ulah majikan yang menyiksa hingga hampir lumpuh dan mengalami luka di sekujur badan, bahkan yang paling sadis, majikannya tega menggunting bibir bagian atas Sumiati. Kasus yang mendapat perhatian dari hampir seluruh masyarakat Indonesia itu kini sedang ditangani oleh pemerintah.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa perlakuan tenaga kerja Indonesia di luar sana sungguh sangat tak manusiawi, dan ini bukanlah kali pertama terjadi. Terkadang para TKI yang membuat kesalahan kecilpun harus menanggung penyiksaan yang berat atas apa yang telah diperbuatnya. Salah satu faktor terbesar dari perlakuan yang sadis terhadap tenaga kerja Indonesia di luar negeri, disebabkan oleh karena mereka tidak mempunyai keterampilan dan skill bahasa yang memadai dalam memberikan jasanya sebagai pekerja, baik industri maupun rumah tangga. Para tenaga kerja ini hanya berkeinginan untuk mendapatkan rezeki di negeri orang, tanpa mengandalkan keterampilan yang dimiliki.

Lemahnya keterampilan dan skill berkomunikasi atau unskilled labor ini yang kerap membuat para majikan luar sana menjadi beringas dan lalu menyiksa, memperkosa bahkan membunuh para tenaga kerja kita. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah untuk memilih dan membuat sebuah sistem baru yang dapat melatih dan menjadikan para pekerja kita terlatih. Karena pada dasarnya Tenaga Kerja Indonesia bukan hanya sebagi pekerja biasa, tetapi juga harus diperlakukan sebagai Duta Negara yang selayaknya mendapat perlakuan yang pantas.

Tenaga kerja Indonesia dikenal di dunia internasional sebagai tenaga kerja yang ramah dan ulet dalam bekerja, tetapi mereka masih tetap kalah saing dengan tenaga kerja dari Negara lain, permasalahan yang kerap terjadi adalah masalah bahasa. Tenaga kerja Indonesia sering terkalahkan oleh tenaga kerja dari Filipina, Kamboja karena bahasa yang dikuasainya, hal tersebut yang menyebabkan perbedaan perlakuan terhadap tenaga kerjanya itu sendiri.

Berdasarkan Berdasarkan Human Development Report, yang menjelaskan tentang index pengembangan sumber daya manusia (Human Development index) yang ada di dunia, Indonesia berada di ranking 108 di dunia internasional, tertinggal satu tingkat oleh Maladewa yang berada di posisi 107, dan termasuk kedalam golongan Medium Human Development dimana pengembangan sumber daya manusianya belum cukup baik. Dan apabila Indonesia ingin masuk menjadi golongan High Human Development seperti halnya Malaysia, terdapat tiga aspek yang harus di perhatikan dengan serius oleh pemerintah kita, aspek kesejahteraan masyarakat, aspek kesehatan masyarakat dan aspek pendidikan masyarakat.

Ketika ketiga aspek itu telah ditingkatkan kualitasnya, maka lambat laun Indonesia dapat masuk ke dalam golongan High Human Development dan secara tidak langsung pula kualitas dari tenaga kerja Indonesia akan meningkat dan mendapat perlakuan yang sebagaimana mestinya, seperti halnya tenaga kerja dari Filipina.

Langkah Presiden SBY yang mengirimkan delegasi khusus untuk menyelesaikan masalah ini serta melayangkan nota protes kepada pemerintah Arab Saudi merupakan tindakan yang sangat patut di apresisasi, karena memang ini adalah tugas pemerintah dan negara untuk melindungi warga negaranya di manapun berada.

Sudah selayaknya pemerintah dapat mengurangi dan mencegah persitiwa yang menyakitkan bagi para tenaga kerja ini. Disamping itu, kepastian hukumlah yang diharapkan oleh para TKI, salah satunya adalah dengan menyediakan pengacara handal yang juga merupakan salah satu upaya untuk menekan angka kekerasan yang akan menimpa para TKI serta melindungi hak hak dan kepentingan mereka di muka pengadilan negara di negara penerima.

Di dalam negeri, pemerintah juga seharusnya dapat bertindak tegas dalam melindugi kepentingan pahlawan devisa ini, seperti melakukan seleksi yang ketat meliputi skill dan kemampuan berkomunikasi, sehingga tenaga kerja yang dihasilkan mempunyai kualitas yang tinggi di segala bidang dan pada akhirnya akan mengharumkan nama Indonesia. Lalu pemerintah juga dapat memilih negara mana saja yang akan dikirimi tenaga kerja Indonesia, jikalau ada suatu negara yang dinilai sering melakukan penyiksaan, maka pemerintah dapat mem-black list dan tidak mengirimkan TKI kembali ke negara tersebut.

Dengan ketegasan ini, maka Negara kita tidak akan terlihat bergantung kepada negara penerima, tetapi ada saling ketergantungan antara Negara pengirim (Indonesia) dengan Negara penerima. Pada akhirnya juga majikan dan negara penerima tidak akan bertindak semena-mena terhadap para TKI.

Selain itu juga pemerintah harus menuntaskan segala kasus yang terjadi menyangkut ketenagakerjaan kita dengan cepat dan sigap. Seperti halnya kasus yang dialami oleh Sumiati Tenaga Kerja Indonesia asal Nusa Tenggara Timur itu. Bukankah kepergian para tenaga kerja ini, lebih disebabkan karena pemerintah tak sanggup menyediakan lapangan kerja yang memadai, sehingga kita juga tak bisa menyalahkan kepergian para tenaga kerja yang berupaya untuk menaikkan taraf hidup dengan bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri. Sehingga kasus TKI bukanlah sekedar masalah klasik yang terus berulang dan berkepanjangan.