Luasnya Ilmu Allah

Demi pena dan apa yang dituliskan (Al-Qalam : 1)

Di dunia yang sedang kita huni ini, terdapat banyak sekali ilmu-ilmu Allah yang bertebaran dimana-mana, dan kita sebagai makhluk Allah sudah sepatutnya untuk senantiasa mencari ilmu tersebut. Karena bagi orang yang berilmu, Allah akan meninggikan orang tersebut beberapa derajat. Artinya terdapat suatu perbedaan diantara orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Kita lihat saja dilingkungan sekitar kita, ketika seseorang yang dinilai menguasai suatu disiplin ilmu maka seseorang itu akan mendapat “perlakuan” yang berbeda dari masyarakat sekitar. Sudah pastinya perlakuan yang positif. Jikalau di mata manusia saja seseorang yang berilmu itu mendapat perlakuan yang istimewa, lalu akan sangat istimewanya orang tersebut di mata Allah.

Ketika kita berbicara tentang ilmu. Sesungguhnya seluruh ilmu itu bersumber dari Allah semata. Dalam surat Luqman ayat 27 dikatakan: 

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut [menjadi tinta], ditambahkan kepadanya tujuh laut [lagi] sesudah [kering]nya, niscaya tidak akan habis-habisnya [dituliskan] kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
 
Dalam surat luqman  diatas, Allah mengibaratkan seluruh pohon-pohon yang ada dibumi itu menjadi pena, dan laut menjadi tinta yang akan dipakai untuk menulis ilmu Allah. Tapi selanjutnya Allah menerangkan lagi, maa nafidat kalimatullah (maka tidak akan ada habisnya untuk menulis kalimat Allah, kalimat Allah disini berarti ilmu Allah), walaupun ditambahkan lagi kepadanya tujuh laut, tetapi tetap tidak akan cukup untuk menulis ilmu Allah.



Dari penjelasan dari ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwasannya ilmu yang Allah miliki itu sangat luas (banyak). Ketika Allah sudah menyiapkan ilmu-ilmuNya, maka selanjutnya adalah menjadi kewajban kita untuk mencari, memahami ilmu-ilmu Allah tersebut.

   Dalam suatu hadis dikatakan, man aroda dunya fahua bi ilm, wa man aroda akhirah fahua bi ilm (barang siapa yang menghendaki dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki akhirat maka dengan ilmu). Dari hadis ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa semua itu ada ilmunya ketika kita ingin sukses di dunia maka jalannya adalah dengan ilmu, begitu juga ketika kita ingin sukses di akhirat maka jalannya dengan ilmu pula. Dan sekali lagi, bahwa benar adanya ketika seseorang yang mempunyai ilmu maka dia akan sukses dunia dan akhirat.


Akan tetapi perlu diketahui bersama bahwa, ketika kita sudah memahami suatu ilmu, maka kita juga harus mengamalkan ilmu tersebut. Seperti dalam mahfudzot (pepatah arab) dikatakan al ilmu bilal amalin, kassajari bilal tsamarin (ilmu tanpa diamalkan, bagaikan pohon yang tidak berbuah) artinya masih belum sempurna suatu ilmu ketika kita belum mengamalkannya.
ilmu bila amalin = assajarah bila tsamarin

Telah dikatakan dimuka bahwasannya ilmu Allah itu sangat luas tak terhingga, jadi hikmah yang dapat kita ambil dari  ayat tersebut , kita harus selalu mencari ilmu dan tidak berhenti pada suatu titik saja. Artinya ketika kita sudah merasa memahami dan menguasai suatu ilmu, maka carilah ilmu- ilmu lain. Jangan merasa karena kita sudah menguasai satu ilmu maka kita enggan untuk mencari ilmu lainnya. Mengutip dari surat Al-Insyirah ayat 7  faidza faraghta (dan apabila kamu telah menyelesaikan suatu pekerjaan), fangsob (maka kerjakanlah hal yang lainnya). Jadi, kaitannya dengan ilmu, ketika kita sudah menguasai suatu ilmu, maka carilah ilmu lainnya, karena sesungguhnya ilmu Allah itu tidak ada habisnya.




Masjid Babussalam yang 25 August..

0 komentar: